POLA PERMINTAN DAN PENAWARAN
KETERSEDIAAN DAGING SAPI
NASIONAL TAHUN 2030 DENGAN PENDEKATAN FORECASTING
ABSTRACT
The availability of beef is important influence on beef self-sufficiency program launched by the
government. With the availability of beef in Indonesia, the government program will be done by properly.
Indonesia must be learning from the failure of beef self-sufficiency program, 3 times of self-sufficiency 3
times failed. Government and society has long dreamed of repeating the success as exporting countries
such as in 1970.
The objective of this research is (1) to compare the suplay and demand beef in 2010-2018, (2) to
analyzethe comparison between the availability of beef in 2030 with beef consumptionin 2030 in the
national. The method analyze is (1) descriptive analisys and (2) method of forecasting analysis conducted
in case study. The result of research showed (1) ratio between the suplay and demand of beef in 2010-
2018, is different every year, the first year until the fourt years that suplay in bigger than demadn, and the
other years that demand is bigger than suplay, (2) availability and demand of beef in Indonesian in 2030
experienced a rising trend and ratio with the availability of national beef demand in 2030 shows the ratio
of the availability of beef bigger than the suplay of beef.
Keyword: Analysis of Forecasting, Trend, Beef Availability, Beef Consumption
ABSTRAK
Ketersediaan daging sapi berpengaruh penting terhadap program swasembada daging sapi yang
dicanangkan oleh pemerintah. Dengan tersedianya jumlah daging sapi di Indonesia maka program
pemerintah tersebut akan terlaksana dengan baik.Indonesia perlu belajar dari kegagalan program
swasembada daging sapi, 3 kali swasembada 3 kali gagal. Pemerintah dan masyarakat sejak lama
bermimpi mengulang sukses sebagai negara pengekspor sapi seperti pada era tahun 1970-an.
Tujuan penulisan adalah (1)untuk mengetahui perbandingan antara produksi daging sapi dan
konsumsi daging sapi tahun 2010-2018, (2) Untuk menganalisis perbandingan antara penawaran daging
sapi dengan permintaan daging sapi di tahun 2030 secara nasional. Metode analisis yang digunakan (1)
analisis deskriptif; (2) metode analisis forecasting. Hasil pengujian (1) perbandingan antara penawaran
dan permintaan daging sapi tahun 2010-2018 setaip tahunnya berbeda yaitu pada empat tahun pertama
penawaran lebih besar dibanding permintaan, pada lima tahun terakhir, permintaan lebih besar dibanding
penawaran, (2) penawaran dan permintaan daging sapi nasional tahun 2030 mengalami trend kenaikan
dan perbandingan produksi dengan konsumsi daging sapi nasional 2030 menunjukkan rasio permintaan
daging sapi lebih besar dibandingkan dengan penawaran daging sapi.
Kata kunci: Analisis Forecasting, Trend, Ketersediaan Daging Sapi, Konsumsi Daging Sapi
NASIONAL TAHUN 2030 DENGAN PENDEKATAN FORECASTING
ABSTRACT
The availability of beef is important influence on beef self-sufficiency program launched by the
government. With the availability of beef in Indonesia, the government program will be done by properly.
Indonesia must be learning from the failure of beef self-sufficiency program, 3 times of self-sufficiency 3
times failed. Government and society has long dreamed of repeating the success as exporting countries
such as in 1970.
The objective of this research is (1) to compare the suplay and demand beef in 2010-2018, (2) to
analyzethe comparison between the availability of beef in 2030 with beef consumptionin 2030 in the
national. The method analyze is (1) descriptive analisys and (2) method of forecasting analysis conducted
in case study. The result of research showed (1) ratio between the suplay and demand of beef in 2010-
2018, is different every year, the first year until the fourt years that suplay in bigger than demadn, and the
other years that demand is bigger than suplay, (2) availability and demand of beef in Indonesian in 2030
experienced a rising trend and ratio with the availability of national beef demand in 2030 shows the ratio
of the availability of beef bigger than the suplay of beef.
Keyword: Analysis of Forecasting, Trend, Beef Availability, Beef Consumption
ABSTRAK
Ketersediaan daging sapi berpengaruh penting terhadap program swasembada daging sapi yang
dicanangkan oleh pemerintah. Dengan tersedianya jumlah daging sapi di Indonesia maka program
pemerintah tersebut akan terlaksana dengan baik.Indonesia perlu belajar dari kegagalan program
swasembada daging sapi, 3 kali swasembada 3 kali gagal. Pemerintah dan masyarakat sejak lama
bermimpi mengulang sukses sebagai negara pengekspor sapi seperti pada era tahun 1970-an.
Tujuan penulisan adalah (1)untuk mengetahui perbandingan antara produksi daging sapi dan
konsumsi daging sapi tahun 2010-2018, (2) Untuk menganalisis perbandingan antara penawaran daging
sapi dengan permintaan daging sapi di tahun 2030 secara nasional. Metode analisis yang digunakan (1)
analisis deskriptif; (2) metode analisis forecasting. Hasil pengujian (1) perbandingan antara penawaran
dan permintaan daging sapi tahun 2010-2018 setaip tahunnya berbeda yaitu pada empat tahun pertama
penawaran lebih besar dibanding permintaan, pada lima tahun terakhir, permintaan lebih besar dibanding
penawaran, (2) penawaran dan permintaan daging sapi nasional tahun 2030 mengalami trend kenaikan
dan perbandingan produksi dengan konsumsi daging sapi nasional 2030 menunjukkan rasio permintaan
daging sapi lebih besar dibandingkan dengan penawaran daging sapi.
Kata kunci: Analisis Forecasting, Trend, Ketersediaan Daging Sapi, Konsumsi Daging Sapi
ENDAHULUAN
Latar Belakang
Thomas Robert Malthus (1798), menyatakan bahwa pertumbuhan manusia dapat dihitung dengan memakai deret ukur sedangkan produksi pangan dihitung memakai deret
hitung. Melihat argumentasi Malthus, dunia akan terjadi kekurangan pangan karena
pertumbuhan produksi pangan tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. Dimasa datang permintaan akan komsusi daging sapi semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, yang
berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Berikut jumlah penduduk,
Penawaran daging sapi nasional dan Permintaan daging sapi nasional tahun 2010-2018,
seperti tertera pada tabel1.
Latar Belakang
Thomas Robert Malthus (1798), menyatakan bahwa pertumbuhan manusia dapat dihitung dengan memakai deret ukur sedangkan produksi pangan dihitung memakai deret
hitung. Melihat argumentasi Malthus, dunia akan terjadi kekurangan pangan karena
pertumbuhan produksi pangan tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk. Dimasa datang permintaan akan komsusi daging sapi semakin meningkat seiring
dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan ekonomi, yang
berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat. Berikut jumlah penduduk,
Penawaran daging sapi nasional dan Permintaan daging sapi nasional tahun 2010-2018,
seperti tertera pada tabel1.
Tabel 1 Jumlah Penduduk,
Produksi dan Komsusi Daging Sapi
Nasional
Nasional
|
Sumber :
12 Kementrian Perdagangan. 2014.
3 BPS. 2018. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045. BPS. Jakarta.
Indonesia
4 Hasil Perhitung
12 Kementrian Perdagangan. 2014.
3 BPS. 2018. Proyeksi Penduduk Indonesia 2015-2045. BPS. Jakarta.
Indonesia
4 Hasil Perhitung
pada Tabel 1. Memperlihatkan bahwa penawaran melalui produksi
daging sapi
nasional mampu memenuhi permintaan kebutuhan daging sapi pada tahun 2010 sampai
2013. Mulai tahun 2014 hingga 2018 pola penawaran cenderung fluktuatif, hal berbeda
ditujukan pada sisi permintaan dan jumalh penduduk yang terus meningkat secara
konsisten. Perilaku pola permintaan dan penawaran yang demikian menjadikan semakin
curamnya selisih angka antara permintaan dan penawaran.
nasional mampu memenuhi permintaan kebutuhan daging sapi pada tahun 2010 sampai
2013. Mulai tahun 2014 hingga 2018 pola penawaran cenderung fluktuatif, hal berbeda
ditujukan pada sisi permintaan dan jumalh penduduk yang terus meningkat secara
konsisten. Perilaku pola permintaan dan penawaran yang demikian menjadikan semakin
curamnya selisih angka antara permintaan dan penawaran.
Hukum permintaan mengatakan bahwa
semakin tinggi permintaan maka harga
barang tersebut akan semakin mahal. Demikian pula yang terjadi pada tingginya
permintaan terhadap ketersediaan daging sapi dalam negeri yang menyebabkan harga
daging sapi dalam negeri tinggi.
barang tersebut akan semakin mahal. Demikian pula yang terjadi pada tingginya
permintaan terhadap ketersediaan daging sapi dalam negeri yang menyebabkan harga
daging sapi dalam negeri tinggi.
Gambar 1. Impor Daging Sapi dari Negara
Produsen Daging Sapi Dunia
Sebesar 53 % daging sapi impor tersebut berasal dari Australia.
Negara lain yang turut
mengimpor daging sapi adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan share
masing-masing sebesar 9 %, serta Jepang, Malaysia, dan Singapura dengan share
kurang dari 1 %. (bps.go.id. 2017) Pada tahun 2017 pemerintah melakukan impor daging sapi sekitar 160 ribu ton.
Sebesar 53 % daging sapi impor tersebut berasal dari Australia. Negara lain yang turut
mengimpor daging sapi adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan share
masing-masing sebesar 9 %, serta Jepang, Malaysia, dan Singapura dengan share
kurang dari 1 %. (bps.go.id. 2017).
mengimpor daging sapi adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan share
masing-masing sebesar 9 %, serta Jepang, Malaysia, dan Singapura dengan share
kurang dari 1 %. (bps.go.id. 2017) Pada tahun 2017 pemerintah melakukan impor daging sapi sekitar 160 ribu ton.
Sebesar 53 % daging sapi impor tersebut berasal dari Australia. Negara lain yang turut
mengimpor daging sapi adalah Amerika Serikat dan Selandia Baru dengan share
masing-masing sebesar 9 %, serta Jepang, Malaysia, dan Singapura dengan share
kurang dari 1 %. (bps.go.id. 2017).
Identifikasi Masalah
Identifikasi masalah dari penulisan ini adalah: Bagaimana perbandingan antara
permintaan dan penawaran daging sapi nasional 2010-2018, Bagaimana permintaan dan
penawaran daging sapi tahun 2030 berdasarkan analisis forecasting. Bagaimana
perbandingan antara permintaan dan penawaran daging sapi nasional 2030.
Identifikasi masalah dari penulisan ini adalah: Bagaimana perbandingan antara
permintaan dan penawaran daging sapi nasional 2010-2018, Bagaimana permintaan dan
penawaran daging sapi tahun 2030 berdasarkan analisis forecasting. Bagaimana
perbandingan antara permintaan dan penawaran daging sapi nasional 2030.
Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut : Mengetahui perbandingan antara
permintaan dan penawaran daging sapi tahun 2010-2018. Menganalisis penawaran dan
permintaan daging sapi 2030 berdasarkan analisis forecasting secara nasional.
Mengetahui perbandingan antara permintaan dan penawaran daging sapi 2030 secara
nasional.
Tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut : Mengetahui perbandingan antara
permintaan dan penawaran daging sapi tahun 2010-2018. Menganalisis penawaran dan
permintaan daging sapi 2030 berdasarkan analisis forecasting secara nasional.
Mengetahui perbandingan antara permintaan dan penawaran daging sapi 2030 secara
nasional.
TINJAUAN PUSTAKA
Mekanisme Pasar (Permintaan dan Penawaran Barang)
Mekanisme pasar merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran untuk
menentukan harga secara alamiah. Apabila permintaan naik maka harga barang-barang
akan naik, begitu pula sebaliknya apabila permintaan turun harga barang-barang akan
turun. Namun apabila, penawara naik harga-harga akan turun, demikian pula apabila
penawaran turun harga barang-barang akan naik.
Mekanisme Pasar (Permintaan dan Penawaran Barang)
Mekanisme pasar merupakan pertemuan antara permintaan dan penawaran untuk
menentukan harga secara alamiah. Apabila permintaan naik maka harga barang-barang
akan naik, begitu pula sebaliknya apabila permintaan turun harga barang-barang akan
turun. Namun apabila, penawara naik harga-harga akan turun, demikian pula apabila
penawaran turun harga barang-barang akan naik.
Definisi Manajemen
Permintaan
Gaspersz (2001:71) mendefinisikan manajemen permintaan (demand
management) sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk
menjamin bahwa penyusunan jadwal induk (master scheduler) mengetahui dan
menyadari semua permintaan produk itu. Secara garis besar aktivitas-aktivitas dalam
manajemen permintaan dapat dikategorikan ke dalam dua aktivitas utama, yaitu
pelayanan pesanan (order service) yang bersifat pasti, dan peramalan (forecasting) yang
bersifat tidak pasti.
Gaspersz (2001:71) mendefinisikan manajemen permintaan (demand
management) sebagai suatu fungsi pengelolaan dari semua permintaan produk untuk
menjamin bahwa penyusunan jadwal induk (master scheduler) mengetahui dan
menyadari semua permintaan produk itu. Secara garis besar aktivitas-aktivitas dalam
manajemen permintaan dapat dikategorikan ke dalam dua aktivitas utama, yaitu
pelayanan pesanan (order service) yang bersifat pasti, dan peramalan (forecasting) yang
bersifat tidak pasti.
METODE
Metode Lokasi Penelitian dan Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan dokumentasi.
Data yang digunakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari buku-buku literatur,
jurnal-jurnal menganai konsumsi dan produksi sapi dalam angka terbitan BPS dan
Dinas Peternakan yang berkaitan dengan penulisan ini.
Metode Lokasi Penelitian dan Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dan dokumentasi.
Data yang digunakan data sekunder. Data sekunder diperoleh dari buku-buku literatur,
jurnal-jurnal menganai konsumsi dan produksi sapi dalam angka terbitan BPS dan
Dinas Peternakan yang berkaitan dengan penulisan ini.
Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah,: hipotesis 1.
menggunakan metode deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik
sehingga dapat dilihat perbandingan antara penawaran daging sapi, permintaan daging
sapi dan impor daging sapi pada tahun 2010-2018. Hipotesis 2. menggunakan analisis
data kuantitatif untuk forecasting dengan menggunakan metode kuadrat terkecil serta
menggunakan metode deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik
sehingga dapat dilihat perbandingan antara penawaran dengan permintaan daging sapi
nasional 2030.
Adapun metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data tersebut, yaitu:
Trend Projection (Proyeksi Tren), yakni sebuah Metode yang digunakan untuk
mencocokkan garis tren pada serangkaian data masa lalu, kemudian memproyeksikan
garis pada masa depan untuk peramalan jangka menengah atau jangka panjang. Garis
tren pada metode proyeksi tren dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah,: hipotesis 1.
menggunakan metode deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik
sehingga dapat dilihat perbandingan antara penawaran daging sapi, permintaan daging
sapi dan impor daging sapi pada tahun 2010-2018. Hipotesis 2. menggunakan analisis
data kuantitatif untuk forecasting dengan menggunakan metode kuadrat terkecil serta
menggunakan metode deskriptif dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik
sehingga dapat dilihat perbandingan antara penawaran dengan permintaan daging sapi
nasional 2030.
Adapun metode yang dapat digunakan untuk menganalisis data tersebut, yaitu:
Trend Projection (Proyeksi Tren), yakni sebuah Metode yang digunakan untuk
mencocokkan garis tren pada serangkaian data masa lalu, kemudian memproyeksikan
garis pada masa depan untuk peramalan jangka menengah atau jangka panjang. Garis
tren pada metode proyeksi tren dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:
ŷ= a+bx
Untuk garis kemiringan b dapat ditemukan
dengan persamaan:
a=ӯ-b
y=
Keterangan:
ŷ= variabel terikat yang akan diprediksi,
a= persilangan sumbu y,
b= kemiringan garis regresi,
x= variabel bebas,
n = jumlah data atau pengamatan,
= rata-rata nilai x,
ӯ= rata-rata nilai y
ŷ= variabel terikat yang akan diprediksi,
a= persilangan sumbu y,
b= kemiringan garis regresi,
x= variabel bebas,
n = jumlah data atau pengamatan,
= rata-rata nilai x,
ӯ= rata-rata nilai y
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Daging Sapi 2010-2018
Untuk mengetahui penawaran daging sapi, maka akan diperoleh dengan
melakukan analisis forecasting yaitu dengan menggunakan data penawaran dan
permintaan daging sapi nasional tahun 2010-2018. dimana pola permintaan dan
penawaran seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan Penawaran dan Permintaan Daging Sapi Nasional
Tahun 2010-2018
1. Perbandingan Produksi dan Konsumsi Daging Sapi 2010-2018
Untuk mengetahui penawaran daging sapi, maka akan diperoleh dengan
melakukan analisis forecasting yaitu dengan menggunakan data penawaran dan
permintaan daging sapi nasional tahun 2010-2018. dimana pola permintaan dan
penawaran seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan Penawaran dan Permintaan Daging Sapi Nasional
Tahun 2010-2018
|
|
|
|
Keterangan :
Rasio = < 1 : Komsusi lebih tinggi dibandingkan produksi
Rasio = ≥ 1 : Produksi lebih tinggi dibandingkan konsumsi
Sumber : data sekunder diolah 2019
Rasio = < 1 : Komsusi lebih tinggi dibandingkan produksi
Rasio = ≥ 1 : Produksi lebih tinggi dibandingkan konsumsi
Sumber : data sekunder diolah 2019
Pada
tabel 2, diketahui bahwa pada tahun 2010 sampai tahun 2013 penawaran
daging sapi secara nasional lebih tinggi dibandingkan sisi permintaan, ketersediaan
komoditas dipasar mampu mencukupi permintaan daging sapi masyarakat. Namun,
sejak tahun 2014 sampai 2018 sisi penawaran daging sapi nasional mengalami
fluktuatif, tetapi disisi permintaan terjadian kenaikan secara konsisten.
Menurunnya sisi penawaran di tahun 2014 lebih banyak disebabkan adanya
fenomena kesejahteraan hewan, (ditahun 2014 banyak terjadi penyakit kuku dan mulut
pada negara produsen sapi potong dunia, sehigga pemerintah mengambil kebijakan
untuk mengurangi impor daging sapi dan sapi bakalan), dan label halal daging sapi
impor (pemerintah mencoba mengambil kebijakan untuk mengimpor daging sapi dari negara Cina, namun proses pengolahan daging sapi potong di Cina belum terakreditasi
halal layaknya Australia dan Amerika Serikat).
daging sapi secara nasional lebih tinggi dibandingkan sisi permintaan, ketersediaan
komoditas dipasar mampu mencukupi permintaan daging sapi masyarakat. Namun,
sejak tahun 2014 sampai 2018 sisi penawaran daging sapi nasional mengalami
fluktuatif, tetapi disisi permintaan terjadian kenaikan secara konsisten.
Menurunnya sisi penawaran di tahun 2014 lebih banyak disebabkan adanya
fenomena kesejahteraan hewan, (ditahun 2014 banyak terjadi penyakit kuku dan mulut
pada negara produsen sapi potong dunia, sehigga pemerintah mengambil kebijakan
untuk mengurangi impor daging sapi dan sapi bakalan), dan label halal daging sapi
impor (pemerintah mencoba mengambil kebijakan untuk mengimpor daging sapi dari negara Cina, namun proses pengolahan daging sapi potong di Cina belum terakreditasi
halal layaknya Australia dan Amerika Serikat).
a. Analisis Forecasting Penawaran
Daging Sapi
Pola Penawaran daging sapi hingga tahun 2030 diperoleh dengan analisis
forecasting menggunakan data penawaran daging sapi tahun 2009-2018, sehingga
diperoleh persamaan Trend Linier sebagai berikut:
Y = 493.438.222,31 + 4.389.367 X
Dari hasil persamaan tersebut maka, diproyeksikan penawaran daging sapi pada
tahun 2019 sampai 2013, seperti pada tabel 3, yakni:
Tabel. 3 Proyeksi Penawaran Daging Sapi Nasional 2019-2030
Pola Penawaran daging sapi hingga tahun 2030 diperoleh dengan analisis
forecasting menggunakan data penawaran daging sapi tahun 2009-2018, sehingga
diperoleh persamaan Trend Linier sebagai berikut:
Y = 493.438.222,31 + 4.389.367 X
Dari hasil persamaan tersebut maka, diproyeksikan penawaran daging sapi pada
tahun 2019 sampai 2013, seperti pada tabel 3, yakni:
Tabel. 3 Proyeksi Penawaran Daging Sapi Nasional 2019-2030
|
||
|
|
||
|
Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui penawaran
daging sapi
untuk tahun 2019–2030 dengan menggantikan nilai x di persamaan dengan nilai x yang telah ditentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang diperoleh menunjukkan adanyatrend meningkat, setiap tahun terjadi peningkatan ketersediaan daging sapi secara ratarata yaitu sebesar > 4.389 Ton.
b. Analisis Forecasting Permintaan Daging Sapi Nasional
Pola permintaan daging sapi nasional hingga tahun 2030 diperoleh dengan analisis forecasting menggunakan data permintaan daging sapi dari tahun 2010-2018, sehingga diperoleh persamaan trend linier: Y = 11.607,27 + 1.113,74X Dari persamaan yang diperoleh maka dapat diketahui konsumsi daging sapi untuk tahun 2010 – 2018 dengan menggantikan nilai x di persamaan dengan nilai x yang telah ditentukan untuk tahun tersebut. Persamaan yang diperoleh menunjukkan adanya trend meningkat, setiap tahun terjadi peningkatan konsumsi daging sapi secara rata-rata yaitu sebesar 1.113,74 ton. Hasil perhitungan dengan analisis forecasting seperti tertera pada tabel 4, yakni:
Tabel 3. Total Proyeksi Konsumsi Daging Sapi Nasional 2019-2030
Sumber: Hasil Perhitungan Forecasting, 2019 Pada tabel 4, dapat dilihat bahwa sisi permintaan daging sapi nasional tahun 2019-2024 mengalami kenaikan secara konsisten, dengan rata-rata kenaikan sebesr 1,01% sedangkan di tahun 2025 terjadi penurunan permintaan daging sapi secara nasional dengan rata-rata 1,03%. Kenaikan dari sisi permintaan di mungkinkan dengan bertambahnya jumlah penduduk secara nasional. c. Perbandingan Penawaran dan Permintaan Daging Sapi Nasional 2019-2030 Mekanisme pasar merupakan tempat mempertemukan antara sisi permintaan (konsumen) dengan sisi penawaran (produsen), dimana keduanya saling berinteraksi untuk melakukan transaksi untuk tercapai kepuasan kedua belah pihak. Kepuasan dari konsumen (permintaan) adalah apa yang menjadi kebutuhannya dapat tercukupi, sedangkan kepuasan di pihak produsen (Penawaran) dapat memaksimalkan harga untuk meraih laba. Adanya analisis forecasting diharapkan terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran sehingga akan terbentuk keseimbangan pasar, yang mempunyai komponen keseimbangan harga dan keseimbangan kuantitas. Proyeksi penawaran dan
Pada tabel 4, dapat dilihat bahwa sisi permintaan daging sapi
nasional tahun
2019-2024 mengalami kenaikan secara konsisten, dengan rata-rata kenaikan sebesr 1,01% sedangkan di tahun 2025 terjadi penurunan permintaan daging sapi secara nasional dengan rata-rata 1,03%. Kenaikan dari sisi permintaan di mungkinkan dengan bertambahnya jumlah penduduk secara nasional. c. Perbandingan Penawaran dan Permintaan Daging Sapi Nasional 2019-2030 Mekanisme pasar merupakan tempat mempertemukan antara sisi permintaan (konsumen) dengan sisi penawaran (produsen), dimana keduanya saling berinteraksi untuk melakukan transaksi untuk tercapai kepuasan kedua belah pihak. Kepuasan dari konsumen (permintaan) adalah apa yang menjadi kebutuhannya dapat tercukupi, sedangkan kepuasan di pihak produsen (Penawaran) dapat memaksimalkan harga untuk meraih laba. Adanya analisis forecasting diharapkan terjadi keseimbangan antara permintaan dan penawaran sehingga akan terbentuk keseimbangan pasar, yang mempunyai komponen keseimbangan harga dan keseimbangan kuantitas. Proyeksi pawaran danpermintaan daging sapi nasional, yang didapatkan dari perhitungan analisis forecasting seperti pada tabel 5, yakni: Tabel 5. Hasil Analisis Forecasting Total Penawaran dan Permintaan Daging Sapi Nasional 2019-2030
Tahun
x penawaran permintaan selisih rasio
2019
10 537.331.889,12 972.775.699,88
(435.443.810,76) 0,552
2020 11 541.721.255,80 1.015.338.433,64 (473.617.177,85) 0,534 2021 12 546.110.622,48 1.057.901.167,41 (511.790.544,93) 0,516 2022 13 550.499.989,16 1.100.463.901,17 (549.963.912,02) 0,500 2023 14 554.889.355,84 1.143.026.634,94 (588.137.279,10) 0,485 2024 15 559.278.722,52 1.185.589.368,71 (626.310.646,19) 0,472 2025 16 563.668.089,20 1.228.152.102,47 (664.484.013,27) 0,459 2026 17 568.057.455,88 1.270.714.836,24 (702.657.380,36) 0,447 2027 18 572.446.822,56 1.313.277.570,00 (740.830.747,44) 0,436 2028 19 576.836.189,24 1.355.840.303,77 (779.004.114,53) 0,425 2029 20 581.225.555,92 1.398.403.037,53 (817.177.481,61) 0,416 2030 21 585.614.922,60 1.440.965.771,30 (855.350.848,70) 0,406
|
Tampak pada tabel 5 di atas perbedaan
yang sangat mencolok antara proyeksi
permintaan dan penawaran daging sapi nasional hingga tahun 2019-2030. Puncaknya
pada tahun 2030, tanpa ada upaya terpadu dari semua pihak maka defisit daging sapi
nasional mencapai lebih dari > 855,250 ton. Periode tahun 2019 sampai 2030, sisi
penawaran mencapai rata-rata ±561.473 ton per tahun, sedangkan sisi permintaan pada
periode yang sama didapatkan rata-rata ±1.206.871 ton per tahun, sehingga pola
penawaran daging sapi nasional mengalami deficit rata-rata sebesar ±645.397 ton per
tahun.
Tabel 4, memperlihatkan bahwa di tahun 2019 sisi permintaan daging sapi
secara nasional mencapai 972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton. Pada tahun
2020 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai 1.015.338 ton, namun sisi
penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 541.721
ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar
473.517 ton.
Pada tahun 2021 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.057.901. ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 546.110 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 511.790 ton. Periode tahun 2022 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.100.463 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 550.499 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 549.963 ton.
Pada tahun 2023 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.143.026 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 554.889 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 588.137 ton. Periode tahun 2024 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.185.589 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 559.278 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 626.310 ton.
Pada tahun 2025 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.228.152 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 563.668 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 664.484 ton. Periode tahun 2026 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.270.714 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 568.057 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 855.350 ton.
Perode tahun 2027 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging sapi
nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton. Pada tahun 2028 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton.
Pada tahun 2029 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.398.403 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 581.225 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 817.177 ton. Tahun 2030 sisi permintaan daging sapi
secara nasional mencapai 1.440.965 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 585.615 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 855.351 ton.
Perhitungan pada penulisan ini hanya mengukur dan memproyeksikan sisi
produksi dan komsusi daging nasional, dari tahun 2010 sampai 2018, tanpa
memperhatikan variabel/faktor-faktor lain. Karena variabel lain dianggap konstan.
Pemerintah selaku pembuat kebijakan hendaknya membuat kebijakan yang lebih
komperensif menyangkut produksi daging sapi nasional demi terwujudnya swasembada
daging sapi nasional.
permintaan dan penawaran daging sapi nasional hingga tahun 2019-2030. Puncaknya
pada tahun 2030, tanpa ada upaya terpadu dari semua pihak maka defisit daging sapi
nasional mencapai lebih dari > 855,250 ton. Periode tahun 2019 sampai 2030, sisi
penawaran mencapai rata-rata ±561.473 ton per tahun, sedangkan sisi permintaan pada
periode yang sama didapatkan rata-rata ±1.206.871 ton per tahun, sehingga pola
penawaran daging sapi nasional mengalami deficit rata-rata sebesar ±645.397 ton per
tahun.
Tabel 4, memperlihatkan bahwa di tahun 2019 sisi permintaan daging sapi
secara nasional mencapai 972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton. Pada tahun
2020 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai 1.015.338 ton, namun sisi
penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 541.721
ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar
473.517 ton.
Pada tahun 2021 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.057.901. ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 546.110 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 511.790 ton. Periode tahun 2022 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.100.463 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 550.499 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 549.963 ton.
Pada tahun 2023 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.143.026 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 554.889 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 588.137 ton. Periode tahun 2024 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.185.589 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 559.278 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 626.310 ton.
Pada tahun 2025 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.228.152 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 563.668 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 664.484 ton. Periode tahun 2026 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 1.270.714 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 568.057 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 855.350 ton.
Perode tahun 2027 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging sapi
nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton. Pada tahun 2028 sisi permintaan daging
sapi secara nasional mencapai 972.775 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 537.331 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 435.443 ton.
Pada tahun 2029 sisi permintaan daging sapi secara nasional mencapai
1.398.403 ton, namun sisi penawaran hanya mampu menyediakan kebutuhan daging
sapi nasional sebesar 581.225 ton, sehingga daging sapi nasional, dari sisi penawaran
mengalami kekurangan sebesar 817.177 ton. Tahun 2030 sisi permintaan daging sapi
secara nasional mencapai 1.440.965 ton, namun sisi penawaran hanya mampu
menyediakan kebutuhan daging sapi nasional sebesar 585.615 ton, sehingga daging sapi
nasional, dari sisi penawaran mengalami kekurangan sebesar 855.351 ton.
Perhitungan pada penulisan ini hanya mengukur dan memproyeksikan sisi
produksi dan komsusi daging nasional, dari tahun 2010 sampai 2018, tanpa
memperhatikan variabel/faktor-faktor lain. Karena variabel lain dianggap konstan.
Pemerintah selaku pembuat kebijakan hendaknya membuat kebijakan yang lebih
komperensif menyangkut produksi daging sapi nasional demi terwujudnya swasembada
daging sapi nasional.
Nice ..
BalasHapusSangat membantu
BalasHapusItu ada yg perlu d revisi😁 seharusnya pendahuluan ya kak..
BalasHapusNice